rainy dayHmm.. ingat cuaca jogja yang minggu ini dingin banget.. jadi ingat kejadian beberapa waktu yang lalu.. kapan tepatnya gw lupa.. ga penting juga kan? Yah kira-kira 3 bulan yang lalu, minggu-minggu dimana langit di jogja mendung setiap hari. hari-hari dimana hujan pasti turun dengan signifikansi 95% entah siang, sore atau malamnya. Gw masih ingat, betapa dengan konyolnya beberapa kali basah kuyup diperjalanan pulang dari kampus. Hujan tiba-tiba mengguyur ditengah jalan!

Nah hari-hari hujan itulah saat yang tepat untuk diisi dengan bermalas-malasan dan kegiatan yang tidak bermanfaat lainnya. Tentu saja setelah basah kuyup dari kampus (yang emang disengaja) kegiatan yang paling enak adalah 1) tidur 2) makan 3) baca buku 4) nonton.

Ada satu kejadian nih.. Kejadian ini klo ga salah hari selasa, (klo salah anggap aja bener ya!) Hari itu adalah hari yang sama dengan hari-hari lainnya, langit mendung dari jam 10 pagi, dan hujan mengguyur mulai jam 7 malam. Sialan, padahal belum makan malam. Masalahnya gw sedang menjalankan diet untuk menaikkan berat badan.

Jarum jam berdetak perlahan dan jarum pendeknya berputar terus ke angka 9. Udah jam sembilan, gak tahan lagi.. laper. Maka dengan meminjam payung lebar punya mas Jogi-jogi berangkatlah aku ke tukang nasi goreng. Hujan turun dengan cukup deras untuk meredam langkah-langkahku. Pas melewatin sebuah kosan putri (di Pogung Dalangan) .. OMG ada yang lagi kissing.. Haha.. Weww..

Read more…

Ada suatu kota dimana tempat parkir adalah bisnis yang menguntungkan.

Bagi yang pernah tinggal di Jogjakarta pasti tau bagaimana parahnya transportasi umum di kota ini. Bus-bus kota, berkarat boros bensin dengan asap hitam berseliweran menguasai jalan. Dengan rute berputar-putar, ongkos jauh dekat dua ribu–tidak mau kurang walau kamu hanya naik sejauh satu kilo–dan jadwal operasi yang hanya sampai jam 6 sore membuat bus kota tidak dapat diandalkan. Kendaraan pribadi menjadi alternatif: motor salah satunya.

Transportasi umum disini sangat tidak dapat diharapkan. Bus: tidak semua bagian kota dilewati jalur bus. Becak: apa mau setiap kali naik saja lima ribu, itupun untuk jarak dekat, belum termasuk perasaan kurang manusiawi terhadap mas-mas becak. Taksi: jangan harap menemukan taksi dijalan-jalan kecil. Ojek: sepertinya hanya mangkal di terminal dan stasiun? Angkot: bukannya cuma ada di bogor?

Entah kenapa kota ini begitu unik dengan sistem transportasi umum berusia puluhan tahun. Ketidakrelaan melepas bus-bus tua dan pertimbangan akan nasib supir (?) membuat kesemrawutan ini tidak pernah berakhir. Tiada angkot disini, tiada pangkalan ojek, hanya becak yang mangkal di perempatan kampung. Warga beradaptasi dengan alternatif sendiri: sepeda motor. Motor adalah nyawa disini, setiap orang punya motor: karyawan, pedagang, mahasiswa dan mungkin supir bus itu sendiri. Jogja adalah kota dengan ribuan motor: eksotisme tersendiri yang membuatnya terasa sangat dinamis. Wajah-wajah dibalik helm dan slayer warna-warni di lampu merah, tukang parkir berwajah ramah adalah keseharian disini.

motor.pngMotor menjadi cukup penting sebagai syarat biar tidak dianggap miskin, atau salah satu syarat seorang pemuda agar ada gadis yang melirik. Sepertinya prinsipnya hanya satu, yang penting punya, tidak perlu gengsi disini. Motor baru ataupun lama tidak masalah, toh motor hanya sebuah alat, sama-sama terpaksa bayar parkir dimana-mana.

Jangan heran kalau seragam yang sedang tren disini adalah jaket motor dan aksesoris yang sedang mode adalah helm. Kata teman saya, orang jogja kalau masuk toko pun pakai helm. Dan kata saya, cuma di kota ini kamu bisa menemukan plat motor dari A sampai Z: motor bawaan dari mahasiswa rantau.

Masalahnya tidak semua orang punya motor. Kota ini sudah terbiasa dan beradaptasi dengan keadaan transportasi umum yang buruk, dan pemerintah sepertinya tidak melakukan apa-apa untuk membangun transportasi yang lebih nyaman.. Barangkali nyamannya hanya dihati saja.

Some Updates!

by artul

So, here’s some updates. I have been unable to updates my blog for this week due to some damn influenza-virus, that make me sneeze every 2 minutes–bursting thousands little particle to the thin air each time, make me can’t concentrate about anything, including writing in front of my PC ( I’m still go to campus though)

Since last thursday (may 2nd), the network admin in my campus, which is also one of my lecturer–Pak Mudji, generously :p reopened free wi-fi access in my MILAN campus, which has shutted down for public since January– Yup, no internets since then. This time it clearly labelled freepublicFMIPA with allowable access time between 06.00-21.00. Some great new policy for student?

Read more…

Selasa 10 april lalu–tengah hari.

Kartu atmku tertelan. Tertelan mesin ATM pastinya, dan tidak sengaja pastinya, namanya aja ter-telan! Huh langsung terbayang betapa aku harus ke-bank lagi ngurus ini-itu. Untung saja bank-nya cuma beberapa langkah dari mesin atm itu, tepat disampingnya. Yah aku lagi di mandiri UGM.

Nggak hujan nggak panas, tiba-tiba layar ATM memunculkan tulisan “Waktu Pengambilan Kartu Sudah Habis” dalam dua detik setelah aku memencet menu “Pengambilan Cepat”. Mesin yang buggy.

Ada lorong kecil yang menghubungkan bagian dalam bank dengan ruangan ATM. Langsung saja aku masuk. Anehnya kok sepi! Ngeliat tampangku yang seperti orang desa lg kebingungan, Read more…

Baca?

by artul

Ini cerita masa lalu.
Waktu itu adalah masa usia belasan yang penuh keceriaan dan perkembangan fisik. (sekarang udah nggak belasan lagi). Masa-masa dalam pikiranku dimana dunia masih cerah dan tajam. Ketika kamu bangun pagi dengan tampang imut dan selalu terpukau akan keindahan sinar matahari yang menerpa. Ketika sinar itu dengan indah menelusup disela daun-daun dan kabut pagi. Ketika kamu menikmati setiap pagi. Yah masa itu aku belum terkena myopia. He3x..

Ini cerita tentang apa sih? Ini cerita tentang myopia.

Pada suatu hari kamis, papan tulis didepan kelas terlihat kabur, tulisan tulisan disana terlihat semakin kabur hanya dalam selang waktu dua minggu. Bagaimana mungkin? Ada apa dengan mata ini? Ah abaikan saja. Minggu depan juga sudah berkurang.

Dua bulan berlalu, ternyata perkiraanku salah.
Kata dokter: harus pakai kacamata, minus satu dioptri.

Bagaimana mungkin? Ah dunia memang tidak adil. Kehidupan usia belasan yang terasa ringan dan menggairahkan serasa hancur. Haruskah memakai kacamata? haruskah aku menjadi anak aneh itu, duduk di deretan depan dikelas dengan kacamata yang ada rantainya? Haruskah aku jadi salah satu dari yang sedikit?
Gak bisa olahraga, gak bisa loncat-loncat seenaknya lagi, tanpa setiap menit memegang gagang kacamatamu? Dan tanpa ragu kamu akan dianggap sebagai kutubuku?

Argh.. tidaaak! Read more…